Pertemanan Tidak Sehat di Kampus Berdampak pada Kesehatan Mental Mahasiswa

Sosial

Source : Pinterest ( Vecteezy)

Lhokseumawe, 29 Juni 2026 – Hubungan pertemanan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kenyamanan mahasiswa selama menjalani perkuliahan. Selain menjadi tempat berbagi pengalaman dan saling mendukung, pertemanan juga dapat memberikan dampak sebaliknya apabila hubungan yang terjalin tidak sehat atau dikenal sebagai toxic friendship.

Toxic friendship merupakan hubungan pertemanan yang ditandai dengan sikap saling merendahkan, kurang menghargai, memanfaatkan teman demi kepentingan pribadi, hingga menciptakan tekanan emosional. Kondisi tersebut dapat membuat mahasiswa merasa tidak nyaman, kehilangan motivasi, bahkan memengaruhi kesehatan mental dan aktivitas akademik.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO), sekitar 1 dari 8 orang di dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental. Pada kalangan usia muda, hubungan sosial yang kurang sehat menjadi salah satu faktor yang dapat memperburuk kondisi psikologis apabila tidak disikapi dengan baik.

Salah seorang mahasiswa Universitas Malikussaleh, Amel (21), mengatakan bahwa lingkungan pertemanan memiliki pengaruh besar terhadap kenyamanan selama berada di kampus. Menurutnya, teman seharusnya menjadi sosok yang saling mendukung, bukan justru menjadi sumber tekanan.

“Menurutku, teman harusnya jadi tempat untuk saling mendukung. Kalau didalam pertemanan masih sering ngerasa ga dihargai atau terus-terusan dapat perlakuan yang bikin ga nyaman, lama-kelamaan itu pasti mempengaruhi semangat kuliah dan cara kita memandang diri sendiri,” ujarnya saat wawancara, Senin (29/6/26).

Pendapat serupa disampaikan oleh mahasiswa Universitas Malikussaleh lainnya, Muhammad Fikri (22). Ia menilai bahwa hubungan pertemanan yang sehat dapat menjadi penyemangat dalam menjalani kehidupan perkuliahan, sedangkan lingkungan yang dipenuhi sikap saling menjatuhkan justru dapat memberikan tekanan emosional.

“Menurutku si kalau berteman tu harus saling mendukung, kalau emang mulai ga nyaman, aku si lebih milih cut off aja”. Katanya, Senin (29/6/26).

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa membangun hubungan pertemanan yang sehat sama pentingnya dengan menjaga prestasi akademik. Sikap saling menghargai, terbuka dalam berkomunikasi, serta menghormati batasan pribadi menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan nyaman. Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya hubungan sosial yang positif, diharapkan mahasiswa dapat lebih bijak dalam memilih lingkungan pertemanan yang mendukung perkembangan diri sekaligus menjaga kesehatan mental.

Penulis : Adelia Finanda

Editor : Deby Amelia Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *