Pengguna Celana Baggy Sering Dilabeli Skena, Begini Faktanya

Lifestyle

Foto: https//pin.it/7sEx7Bo76

Lhokseumawe, 3 Juli 2026 – Tren penggunaan celana baggy di kalangan anak muda semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di balik popularitasnya, tidak sedikit pengguna celana berpotongan longgar tersebut yang langsung mendapat label sebagai “anak skena”. Padahal, anggapan itu belum tentu sesuai dengan kenyataannya.

Di sejumlah kampus dan ruang publik di Kota Lhokseumawe, celana baggy kini menjadi salah satu pilihan busana karena dianggap nyaman dan mudah dipadukan dengan berbagai gaya berpakaian. Meski demikian, banyak orang masih menganggap bahwa setiap pengguna celana baggy identik dengan budaya skena.

Istilah skena  sendiri berasal dari kata scene yang merujuk pada komunitas atau lingkungan dengan minat yang sama, terutama dalam musik, seni, dan budaya alternatif. Seiring berkembangnya media sosial, istilah tersebut semakin sering dikaitkan dengan gaya berpakaian tertentu, seperti kaos oversized, sepatu kasual, hingga celana baggy. Padahal, gaya berpakaian tidak selalu mencerminkan seseorang merupakan bagian dari komunitas tersebut.

Mahasiswa Politeknik Negeri Lhokseumawe, Muhammad Rizki (21), mengaku sering mendapat komentar dari teman-temannya hanya karena mengenakan celana baggy.

 “Banyak yang langsung bilang saya anak skena, padahal saya pakai celana baggy karena memang nyaman dipakai dan modelnya saya suka. Saya tidak merasa harus mengikuti komunitas tertentu hanya karena pilihan pakaian,” ujarnya saat ditemui di lingkungan kampus.

Senada dengan itu, Nadia Aulia (20), mahasiswi di Lhokseumawe, menilai masyarakat perlu membedakan antara tren fesyen dan identitas sebuah komunitas.

“Sekarang banyak orang memakai celana baggy karena sedang tren. Menurut saya, tidak adil kalau seseorang langsung diberi label skena hanya dari cara berpakaian. Yang menentukan seseorang bagian dari sebuah komunitas adalah aktivitas dan keterlibatannya, bukan sekadar outfit,” katanya.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tren fashion sering kali memunculkan stereotip di kalangan masyarakat. Padahal, tidak semua orang yang mengenakan outfit bergaya kasual atau oversized memiliki keterkaitan dengan komunitas musik maupun budaya alternatif yang selama ini dikenal sebagai skena.

Pengamat budaya populer juga menyebut bahwa istilah “skena” saat ini mengalami perluasan makna di media sosial sehingga kerap disalahartikan hanya sebagai gaya berpakaian. Kenyataannya, skena lebih merujuk pada komunitas dengan ketertarikan yang sama, sementara pakaian hanyalah salah satu bentuk ekspresi yang tidak bisa dijadikan patokan utama.

Penulis : Rahazatul Salsabila

Editor : Alvi Syahrani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *