
Source: Pinterest
Lhokseumawe, 24 Juni 2026 — Perasaan insecure atau tidak percaya diri menjadi salah satu persoalan yang kerap dialami mahasiswa di lingkungan perkuliahan. Tingginya penggunaan media sosial serta kebiasaan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain dinilai menjadi faktor yang mendorong munculnya perasaan tersebut di kalangan Generasi Z.
Fenomena ini banyak dirasakan mahasiswa ketika melihat unggahan teman-teman mereka mengenai prestasi akademik, kegiatan organisasi, seminar, program magang, hingga berbagai pencapaian lainnya. Kondisi tersebut sering membuat sebagian mahasiswa merasa tertinggal dan menganggap dirinya belum cukup berkembang selama menjalani masa kuliah.
Mahasiswi Universitas Malikussaleh, Nurul Asyifa (18), mengaku pernah mengalami perasaan insecure saat melihat berbagai pencapaian yang dibagikan teman-temannya di media sosial.
“Kadang-kadang aku ngerasa kayak belum cukup berprestasi selama masa perkuliahan, karena waktu lihat teman-teman ngeposting kegiatan seminar, magang, atau aktivitas organisasi yang mereka ikuti,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (24/6/26).
Menurut hasil penelitian yang dipublikasikan oleh American Psychological Association (APA), penggunaan media sosial yang intens dapat meningkatkan kecenderungan seseorang melakukan perbandingan sosial, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap rasa percaya diri dan kesehatan mental.
Sementara itu, laporan Digital 2026 Indonesia menunjukkan bahwa kelompok usia muda menjadi pengguna media sosial paling aktif dengan rata-rata waktu penggunaan internet yang cukup tinggi setiap harinya. Kondisi ini membuat mahasiswa semakin sering terpapar berbagai informasi mengenai kehidupan dan pencapaian orang lain.
Di lingkungan kampus, perasaan insecure tidak hanya muncul dalam bidang akademik, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan berbicara di depan umum, pengalaman organisasi, keterampilan profesional, hingga rencana karier setelah lulus. Tidak sedikit mahasiswa yang merasa tertinggal ketika melihat teman-temannya telah memiliki pengalaman magang, sertifikat pelatihan, atau jaringan profesional yang lebih luas.
Psikolog pendidikan menilai bahwa membandingkan diri secara berlebihan dapat memunculkan tekanan psikologis dan menurunkan kepercayaan diri. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi mengganggu konsentrasi belajar, motivasi akademik, serta kesejahteraan mental mahasiswa.
Meskipun demikian, para ahli mengingatkan bahwa setiap mahasiswa memiliki proses dan pencapaiannya masing-masing. Media sosial hanya menampilkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang sehingga tidak dapat dijadikan tolok ukur utama keberhasilan. Mahasiswa diharapkan lebih fokus pada pengembangan diri sesuai kemampuan dan tujuan pribadi daripada terus membandingkan diri dengan orang lain.
Kesadaran untuk menggunakan media sosial secara bijak serta membangun lingkungan pertemanan yang suportif dinilai penting untuk membantu mahasiswa mengurangi perasaan insecure dan menjalani perkuliahan dengan lebih sehat secara mental.
Penulis : Deby Amelia Putri
Editor : Adelia Finanda