
Foto : AC yang berada diruang kelas sedang dalam kondisi rusak
Lhokseumawe — Kuliah siang di kampus harusnya menjadi momen serius untuk belajar. Namun malah menjadi tantangan bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), Universitas Malikussaleh, bukan lagi soal tugas yang menumpuk atau materi dosen yang rumit, tetapi karena dikarenaka harus bertahan di dalam ruang kelas yang pengap akibat fasilitas AC yang tak dapat beroperasi.
Bukan hanya satu melainkan banyaknya pendingin ruangan kelas yang mati, ditambah kondisi cuaca di Aceh yang cukup panas membuat keringat bercucuran, baju basah, bau, dan suasana gerah ini jadi pemandangan sehari-hari yang harus dihadapi mahasiswa dan dosen.
Buku catatan, binder, hingga modul kuliah yang tebal beralih fungsi menjadi kipas darurat. Mahasiswa yang sangat tidak tahan dengan panasnya ruangan kelas biasanya membawa kipas portable kecil yang ditaruh di atas meja. Tetap saja, hembusan angin kecil itu kadang tidak cukup untuk mendinginkan diri sendiri apalagi pada satu ruangan yang diisi puluhan kepala.
“Kekmanalah mau fokus kak, rasanya macam dipanggang kita kak bajupun udah basah karna keringat tambah lagi bau keringat dahlah, dipikiran kami tuh kapanlah selesai kelas ini” Keluh Celsia Febiola (20), salah satu mahasiswi Prodi Antropologi pada hari Selasa, (23/6/26).
Kondisi ini jelas tidak adil bagi mahasiswa yang sudah menunaikan kewajiban finansial. Fasilitas penunjang seperti AC bukan lagi barang mewah, melainkan kebutuhan dasar agar proses transfer ilmu bisa berjalan manusiawi. Ketidaknyamanan yang mengorbankan fokus belajar.
Penulis: Ade Husnun Zikra
Editor: Ulfa Ramadhani