Bukan Sekadar Botol Minum, Tumbler Kini Jadi Bagian dari Gaya Hidup Anak Muda

Lifestyle

Foto : https://pin.it/1Q5iQDC1V

Lhokseumawe, 9 Juli 2026 – Membawa tumbler saat beraktivitas kini menjadi kebiasaan baru di kalangan anak muda di Kota Lhokseumawe. Tumbler tidak lagi sekadar digunakan sebagai wadah minum, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup yang praktis sekaligus menunjang penampilan. Fenomena ini semakin terlihat di lingkungan kampus, coffeshop, hingga ruang publik yang banyak dikunjungi mahasiswa.

Di sejumlah kampus dan coffeshop di Lhokseumawe, mahasiswa tampak membawa tumbler dengan berbagai ukuran, warna, dan desain. Ada yang menggunakannya untuk membawa air putih, kopi, matcha, maupun minuman lain yang dibeli di coffeshop. Kehadiran tumbler bahkan menjadi barang yang hampir selalu dibawa bersamaan dengan tas kuliah, laptop, atau perlengkapan belajar lainnya.

Tren tersebut berkembang seiring meningkatnya gaya hidup yang mengutamakan kepraktisan. Banyak anak muda memilih membawa tumbler sendiri agar tidak perlu membeli minuman setiap kali merasa haus. Selain lebih hemat, mereka juga bisa membawa minuman sesuai selera dari rumah dan tetap menikmatinya saat berada di kampus maupun ketika berkumpul bersama teman.

Salah seorang mahasiswa di Lhokseumawe, Lala, mengaku mulai rutin membawa tumbler karena melihat kebiasaan teman-temannya di kampus. Menurutnya, tumbler kini sudah menjadi barang yang hampir dimiliki oleh setiap mahasiswa.

“Awalnya ikut teman-teman yang sering bawa tumbler ke kampus. Lama-lama jadi kebiasaan karena memang lebih praktis. Aku bisa isi air atau kopi dari rumah, jadi nggak perlu bolak-balik beli minuman. Selain itu, sekarang model tumbler juga lucu-lucu, jadi pengen koleksi,” ujar Lala, Kamis (9/7).

Menurut Lala, desain tumbler menjadi salah satu alasan anak muda tertarik membelinya. Beragam pilihan warna pastel, motif minimalis, hingga model dengan sedotan dan pegangan membuat tumbler tidak hanya berfungsi sebagai wadah minum, tetapi juga menjadi aksesori yang menunjang penampilan saat beraktivitas.

Hal senada disampaikan Syifa. Ia mengatakan tren membawa tumbler semakin berkembang karena banyak konten di media sosial yang menampilkan berbagai model tumbler dengan desain menarik. Hal tersebut membuat banyak anak muda terdorong untuk memiliki tumbler yang sesuai dengan selera mereka.

“Sekarang hampir semua teman dekatku bawa tumbler. Selain memang berguna, desainnya juga banyak yang estetik. Kadang lihat rekomendasi di TikTok atau Instagram, jadi ikut tertarik beli. Rasanya lebih praktis karena tinggal isi minuman dari rumah sebelum berangkat kuliah,” kata Syifa.

Media sosial dinilai menjadi salah satu faktor yang mendorong meningkatnya popularitas tumbler. Berbagai konten seperti rekomendasi tumbler, video unboxing, hingga ulasan produk banyak bermunculan di TikTok maupun Instagram. Tidak sedikit kreator konten yang membagikan koleksi tumbler dengan berbagai merek, warna, dan ukuran, sehingga memunculkan tren di kalangan anak muda.

Selain dipengaruhi media sosial, banyak merek juga menghadirkan tumbler dengan desain yang mengikuti selera generasi muda. Pilihan warna yang beragam, bentuk yang ergonomis, hingga fitur seperti sedotan, pegangan, dan kemampuan menjaga suhu minuman selama beberapa jam menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.

Fenomena tersebut juga terlihat di sejumlah coffeshop di Lhokseumawe. Pengunjung, khususnya mahasiswa, kini semakin sering datang sambil membawa tumbler pribadi untuk diisi dengan minuman yang mereka pesan. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa tumbler bukan lagi sekadar perlengkapan minum, tetapi telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari dan gaya hidup anak muda yang mengutamakan kepraktisan.

Di sisi lain, penggunaan tumbler juga memberikan manfaat tambahan berupa berkurangnya penggunaan gelas atau botol sekali pakai. Meski demikian, bagi sebagian besar anak muda, alasan utama membawa tumbler tetap berkaitan dengan kemudahan, efisiensi, serta desain produk yang menarik dan sesuai dengan gaya mereka.

Penulis: Alvi Syahrani

Editor: Rika Sri Wahyuni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *