
Source : Vecteezy
Lhokseumawe, 9 Juli 2026 – Tren self-reward atau memberikan penghargaan kepada diri sendiri semakin banyak diminati di kalangan mahasiswa sebagai metode untuk mengurangi stres setelah menyelesaikan tugas, ujian, atau aktivitas organisasi. Bentuk self-reward yang dilakukan bervariasi, mulai dari membeli makanan kesukaan, berbelanja pakaian, hingga menikmati berbagai hiburan.
Beberapa mahasiswa mengungkapkan bahwa kebiasaan ini membantu mereka meredakan tekanan karena kesibukan di kampus. Namun, apabila dilakukan secara berlebihan, self-reward bisa mendorong perilaku boros dan mengganggu manajemen keuangan pribadi. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa praktik penghargaan yang tidak terjaga dapat berubah menjadi justifikasi untuk berbelanja secara impulsif.
Salah seorang mahasiswi dari Universitas Malikussaleh, Fani (21), mengatakan bahwa sesekali ia membeli makanan atau minuman yang disukainya setelah menyelesaikan tugas sebagai bentuk apresiasi terhadap usaha yang telah dilakukan.
“Setelah menyelesaikan banyak tugas, biasanya saya membeli makanan yang saya suka. Namun, saya tetap berusaha untuk tidak menghabiskan anggaran bulanan,” katanya dalam wawancara pada hari Kamis (9/7/26).
Ia berpendapat bahwa self-reward tidak selalu harus berupa barang yang mahal. Yang terpenting adalah memberikan waktu untuk bersantai dan menikmati apa yang telah dicapai tanpa mengabaikan kebutuhan yang lebih mendesak.
Fenomena ini menjadi pengingat bagi para mahasiswa untuk tetap bijak dalam mengatur pengeluaran. Dengan pengelolaan keuangan yang tepat, self-reward dapat menjadi bentuk apresiasi diri yang positif tanpa menimbulkan masalah finansial di kemudian hari.
Penulis : Adelia Finanda
Editor : Deby Amelia Putri