
Foto: Ilustrasi Mahasiswa sedang Belajar di Perpustakaan Universitas Malikussaleh
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan, sejumlah mahasiswi Universitas Malikussaleh masih memilih membaca buku cetak di perpustakaan kampus karena dinilai lebih membantu fokus dan pemahaman materi kuliah pada Selasa 23/06/2026.
Suasana perpustakaan kampus tampak begitu tenang dan nyaman. Di meja baca yang sama, dua orang mahasiswi duduk berdekatan sambil fokus membuka dan menutup halaman buku cetak. Mereka terlihat tetap fokus membaca meski ada perangkat elektronik di sekitar mereka.
Salah satu di antaranya, Yessi, seorang mahasiswi semester enam (6) jurusan Ilmu Komunikasi, menyatakan bahwa ia sengaja datang ke perpustakaan untuk membaca buku cetak.
“Saya masih suka membaca buku cetak karena bisa lebih fokus, kalau menggunakan AI seperti ChatGPT di handphone atau laptop, sering kali saya terganggu karena notifikasi, membuka media sosial, atau malah scroll hal-hal yang tidak terkait dengan materi,” ujar Yessi.
Moza juga menyampaikan bahwa ia masih menggunakan AI, tetapi hanya untuk keperluan awal saja. “AI bagus untuk mencari ringkasan atau referensi dengan cepat, tapi kalau ingin benar-benar mengerti dan mengingat materi kuliah, saya justru lebih suka menggunakan buku cetak,” pungkasnya.
Dalam proses belajar, Moza mengaku menggunakan AI untuk mencari referensi awal dan ringkasan materi. Setelah itu, ia tetap mempelajari buku cetak untuk memahami isi materi secara lebih mendalam.
Moza juga menambahkan, jika membaca buku cetak membuatnya lebih rileks, lebih fokus dan terasa lebih nyata.
Menurut keduanya, buku cetak memberikan sensasi membaca yang lebih nyaman dan mendalam dibandingkan dengan AI. Mereka lebih mudah berkonsentrasi dan memahami materi ketika membaca buku secara langsung.
Meski demikian, keduanya tidak menolak kemajuan teknologi. Mereka malah melihat bahwa AI dan buku cetak bisa saling melengkapi. AI untuk kecepatan, buku fisik untuk kedalaman pemahaman.
Fenomena ini menunjukkan bahwa meski teknologi AI berkembang pesat pada tahun 2026, minat sebagian mahasiswa terhadap buku cetak masih sangat kuat di perpustakaan kampus.
Penulis: Viryal Haura
Editor: Rizka Tri Wahyuni