
Foto: Penampilan band reggae dalam festival seni di Politeknik di Lhokseumawe
Lhokseumawe, 30 Juni 2026 — Musik reggae tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi media penyampaian pesan sosial bagi band lokal People of Peace. Melalui penampilan mereka di kawasan Politeknik Negeri Lhokseumawe, para personel band tersebut membawa pesan tentang kepedulian terhadap lingkungan sosial, perdamaian, serta berbagai persoalan masyarakat melalui alunan musik reggae.
Penampilan People of Peace berlangsung di Politeknik Negeri Lhokseumawe, Kota Lhokseumawe. Senin, 29 Juni 2026 dengan membawakan sejumlah lagu bernuansa reggae yang menggabungkan irama santai dengan lirik yang mengandung kritik sosial. Kampus tersebut menjadi salah satu ruang bagi para musisi lokal untuk memperkenalkan karya sekaligus menyampaikan aspirasi melalui musik.
Vokalis People of Peace, Maulana Habibi (22), mengatakan bahwa musik reggae dipilih karena memiliki karakter yang dekat dengan pesan perdamaian dan kebebasan berekspresi.
“Reggae bukan hanya tentang musik yang santai, tetapi juga tentang bagaimana kami menyampaikan keresahan yang terjadi di sekitar masyarakat. Melalui lagu, kami ingin mengajak pendengar lebih peduli terhadap masalah sosial,” ujar Maulana Habibi.
Menurutnya, kritik sosial yang disampaikan melalui musik tidak bertujuan untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan menjadi bentuk kepedulian generasi muda terhadap kondisi lingkungan sekitar.
Sementara itu, gitaris People of Peace, Auryn (22), menjelaskan bahwa setiap karya yang mereka bawakan memiliki pesan yang ingin diterima oleh pendengar.
“Kami mencoba memasukkan cerita tentang kehidupan sehari-hari, ketidakpedulian sosial, dan pentingnya menjaga hubungan antar sesama. Musik menjadi cara kami berbicara tanpa harus menggunakan cara yang keras,” kata Auryn.
Ia berharap keberadaan band lokal dengan genre reggae dapat terus berkembang dan mendapat ruang lebih luas di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda di Lhokseumawe.
Melalui penampilan tersebut, People of Peace menunjukkan bahwa musik reggae dapat menjadi wadah kreativitas sekaligus sarana menyuarakan kritik sosial. Kehadiran komunitas musik lokal di ruang publik seperti kampus diharapkan mampu memperkuat perkembangan skena musik daerah.
Penulis : Rahazatul Salsabila
Editor : Alvi Syahrani