Etika Berkomunikasi di Media Sosial Menjadi Tantangan bagi Generasi Muda

Sosial

     Source : Pinterest

Lhokseumawe, 25 Juni 2026 – Media sosial telah menjadi bagian penting dalam kehidupan generasi muda. Berbagai aktivitas, mulai dari berkomunikasi, mencari informasi, hingga membangun relasi, kini banyak dilakukan melalui platform digital. Namun, di tengah tingginya penggunaan media sosial, etika dalam berkomunikasi masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian.

Berdasarkan Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024 yang dirilis oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 221,5 juta jiwa atau sekitar 79,5 persen dari total populasi. Generasi Z menjadi kelompok pengguna internet terbesar dengan kontribusi mencapai 34,4 persen dari total pengguna internet nasional.

Tingginya aktivitas digital tersebut turut meningkatkan intensitas interaksi di media sosial. Namun, kemudahan menyampaikan pendapat sering kali tidak diimbangi dengan kesadaran etika dalam berkomunikasi.

Fenomena tersebut juga menjadi perhatian berbagai pihak karena dapat memicu konflik, perundungan siber (cyberbullying), dan penyebaran ujaran kebencian. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perilaku negatif di media sosial dapat memberikan dampak psikologis bagi korban serta mengganggu terciptanya ruang digital yang sehat.

Pemerintah Indonesia bahkan mulai memperketat pengawasan terhadap aktivitas digital anak dan remaja. Pada 2026, pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan akses media sosial bagi pengguna di bawah usia 16 tahun sebagai upaya mengurangi risiko perundungan siber, penipuan daring, serta dampak negatif lainnya.

Menurut Nadila Aura (21), mahasiswi di Lhokseumawe, penggunaan media sosial yang terlalu bebas membuat sebagian pengguna merasa dapat menulis apa saja tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

“Banyak orang lebih berani ngomong kasar di media sosial dibandingkan saat ngomong langsung. Padahal, setiap komentar yang ditulis bisa buat orang lain terpengaruh” ujarnya saat diwawancarai, Kamis (25/6/2026).

Pendapat serupa disampaikan Muhammad Fadli (22), mahasiswa lainnya. Ia menilai bahwa kurangnya pemahaman mengenai etika digital menjadi salah satu penyebab munculnya berbagai konflik di media sosial.

“Kadang orang langsung membagikan informasi atau berkomentar tanpa cari tahu lebih dulu kebenarannya. Akibatnya, sering kali jadi salah paham terus berdebat yg ga sehat ,” katanya.

Seiring meningkatnya jumlah pengguna internet di Indonesia, literasi digital dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk membangun budaya komunikasi yang lebih sehat. Dengan memahami etika dalam bermedia sosial, generasi muda diharapkan dapat memanfaatkan media sosial secara bijak serta menciptakan lingkungan digital yang aman, nyaman, dan produktif bagi seluruh pengguna.

Penulis : Adelia Finanda

Editor   : Deby Amelia Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *